Minggu, 23 September 2012

MARTABAT TUJUH


MARTABAT TUJUH

Dalam mencari ridhoNya, para sufi menggunakan jalan yang bermacam-macam. Baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan melalui kearifan, kecintaan dan tapa brata.

Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber satu. Allah Ta’ala. Allah yang menjadikan sesuatu dan Dialah a’in dari segala sesuatu. Wujud alam adalah a’in wujud Allah, Allah adalah hakikat alam. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal. Tuhan Seru Sekalian Alam.

Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arabi,seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme (seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan keinsankamilan. Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zaud (perasaan) tasauf.

Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah, salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (…-1629M). Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya. Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Allah melalui penyinaran atau penurunan — di mana konsep ini lahir dari suatu ajaran dalam filsafat yang disebut monisme. Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Allah Ta’ala.

Dr. Simuh dalam Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati menyatakan; “Konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam manusia melalui tajjalinya Tuhan sebanyak tujuh tingkatan jelas tidak bersumber dari Al Qur’an. Sebab dalam Islam tak dikenal konsep bertajjali. Islam mengajarkan tentang proses Tuhan dalam penciptaan makhluknya dengan Alijad Minal Adam, berasal dari tidak ada menjadi ada.”

Selanjutnya, konsep martabat tujuh di Jawa dimulai sesudah keruntuhan Majapahit dan digantikan dengan kerajaan Demak Bintara yang menguasai Pulau Jawa. Sedangkan awal perkembangannya, ajaran martabat tujuh di Jawa berasal dari konsep martabat tujuh yang berkembang di Tanah Aceh — terutama yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai (…-1630) dan Abdul Rauf (1617-1690).

Lebih lanjut ditambahkan; “Ajaran Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf kelihatan besar pengaruhnya dalam perkembangan kepustakaan Islam Kejawen. Pengaruh Abdul Rauf berkembang melalui penyebaran ajaran tarekat Syatariyah yang disebarkan oleh Abdul Muhyi (murid Abdul Rauf) di tanah Priangan. Ajaran tarekat Syatariyah segera menyebar ke Cirebon dan Tegal. Dari Tegal muncul gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa dengan sekar macapat yang ditulis sekitar tahun 1680.”

Sedangkan Buya Hamka mengemukakan bahwa faham Wahddatul Al-Wujud yang melahirkan ajaran Martabat Tujuh muncul karena tak dibedakan atau dipisahkan antara asyik dengan masyuknya. Dan apabila ke-Ilahi-an telah menjelma di badan dirinya, maka tidaklah kehendak dirinya yang berlaku, melainkan kehendak Allah.

Dr. Simuh pun kembali menambahkan, dalam ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan DiriNya setelah bertajjali dalam tujuh di mana ketujuh tingkatan tersebut dibagi dalam dua wujud. Yakni tiga aspek batin dan empat aspek lahir. “Tiga aspek batin terdiri dari Martabat Ahadiyah (kesatuan mutlak), Martabat Wahdah (kesatuan yang mengandung kejamakan secara ijmal keseluruhan), dan Martabat Wahadiyah (kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batas setiap sesuatu). Sedangkan aspek lahir terdiri Alam Arwah (alam nyawa dalam wujud jamak), Alam Mitsal (kesatuan dalam kejamakan secara ijmal), Alam Ajsam (alam segala tubuh, kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batasnya) dan Insan Kamil (bentuk kesempurnaan manusia).

Menanggapi hal ini, Buya Hamka mengutip dari karya Ibnu Arabi yang berjudul Al-Futuhat al-Makkiya fi Marifa Asrar al-Malakiya (589 H atau 1201 M), bahwa tajjalinya Allah Ta’ala yang pertama adalah dalam alam Uluhiyah. kemudian dari alam Uluhiyah mengalir alam Jabarut, Malakut, Mitsal, Ajsam, Arwah dan Insan Kamil — di mana yang dimaksud dengan alam Uluhiyah adalah alam yang terjadi dengan perintah Allah tanpa perantara.

Martabat Pertama, Ahadiyah

Martabat pertama adalah Martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai Martabat Lata’ayyun, atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui). Disebut juga Al-Tanazzulat li ‘l-Dhat (dari alam kegelapan menuju alam terang), al-Bath (alam murni), al-Dhat (alam zat), al-Lahut (alam ketuhanan), al-Sirf (alam keutamaan), al-Dhat al-Mutlaq (zat kemutlakan), al-Bayad al-Mutlaq (kesucian yang mutlak), Kunh al-Dhat (asal terbuntuknya zat), Makiyyah al-Makiyyah (inti dari segala zat), Majhul al N’at (zat yang tak dapat disifati), Ghayb al Ghuyub (gaib dari segala yang gaib), Wujud al-Mahad (wujud yang mutlak).

Dan berikut adalah nukilan dari terjemahan tingkat pertama yang disebut Martabat Ahadiyah dalam Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati.

Suluk Sujinah

Ada pengetahuan perihal tingkatan dalam kehidupan manusia, yang diceritakan dengan ajalollah dan dikenal dengan sebutan martabat tujuh, diawali dengan kegaiban. Zat yang membawa pengetahuan tentang Diri-Nya, dan tanpa membeberkan tentang kenyataan (fisik), Keadaannya kosong namun dasarnya ada. Tapi dalam martabat ini belum berkehendak. Martabat Akadiyah disebut juga dengan Sarikul Adham. Awal dari segala awal.Dalam alam ahadiyah dimulai dengan aksara La dan bersemayam ila. Itulah kekosongan pertama dari empat bentuk kekosongan. Kedua bernama Maslub. Ketiga adalah Tahlil, dan keempat Tasbeh. Maslub bermakna belum adanya bentuk atau wujud roh atau jiwa. Tak berbentuk badan atau wujud lainnya.Tahlil berarti tak bermula dan tak berakhir. Sedangkan Tasbeh bermakna Tuhan Maha Suci dan Tunggal. Tuhan tak mendua atau bertiga. Tak ada Pangeran lain kecuali Allah yang disembah dan dipuja, yang asih pada makhluknya.

Serat Wiirid Hidayat Jati

Sajaratul Yakin tumbuh dalam alam adam makdum yang sunyi senyap azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam ruang hampa yang sunyi senyap selamanya, belum ada sesuatu pun, adalah hakikat Zat Mutlak yang qadim. Zat yang pasti terdahulu, yaitu zat atma, yang menjadi wahana alam Ahadiyah.

Di dalam Suluk Sujinah, tingkat pertama disebut dengan alam Ahadiyah, yaitu alam tentang tingkat keesaan-Nya. Keesaan-Nya agung, dan bukan obyek dari pengetahuan khusus mana pun dan karena itu tidak dapat dicapai oleh makhluk apa pun. Hanya Allah yang mengetahui diri-Nya dan keesaan-Nya.

Dalam keesaan-Nya tak ada sesuatu pun yang menguasai dan mengetahui kecuali diri-Nya. Firmannya adalah diri-Nya sendiri, begitu pun malaikat-Nya dan nabi-Nya. Allah dalam tingkatan ini berada pada kondisi al-Kamal, yaitu, dalam kesempurnaan-Nya.

Hakikat-Nya, keesaan-Nya adalah tempat berkumpulnya seluruh keragaman dan tenggelam atau lenyap dalam kesatuan-Nya. Dalam alam Ahadiyah keragaman dan kejamakan tersebut tidak dapat dipertentangkan dengan gagasan metafisis tentang tahapan atau tingkatan eksistensi.

Dalam tingkatan ini, Allah berada dalam kondisi Ghayb al-Ghuyub, yaitu, keberadaan-Nya yang gaib. Tuhan tak dapat diindrawi. Sebab Allah tidak membeberkan tentang kenyataan yang fisik. Allah dalam keadaan yang tak berujud, yang tak dapat dideteksi oleh manusia atau para wali, nabi, bahkan para malaikat terdekat-Nya. Sebab Ia masih dalam kesendirian-Nya. Allah belum menguraikan atau menciptakan sesuatu. Di dalam derajat ini, semua sifat umum kumpul melebur di dalam diri-Nya. Perbedaan sifat pun ada dalam kesatuan-Nya.

Tuhan dalam alam pertama disebut juga al-Unsur Adam, Allah adalah unsur yang pertama, dan tak ada makhluk-makhluk lainnya yang mendahului. Diri-Nya adalah unsur yang terdahulu yang bersifat agung. Zat-Nya adalah substansi universal dan hakikat-Nya yang tak dapat dipahami. Dalam sifat adam-Nya, hakikat-Nya tak dapat dipahami. Sebab awalnya adalah Ada dalam ketiadaan. Dan ketiadaan-Nya adalah hakikat yang tak terlukiskan dan tak dapat dimengerti oleh siapa pun. Hakikatnya di luar segala perumpamaan dan citraan yang memungkinkan.

Selanjutnya, alam Ahadiyah terbagi dalam empat tingkatan. Tahap pertama dikenal dengan kata La yang bersemayam di dalam kata illa. La dan illa adalah dua kata yang manunggal, karena setiap realitas-realitas hanya merupakan refleksi dari realitas-realitas Allah. La dan illa menunjukan pada asal segala sesuatu yaitu dalam ketiadaan-Nya, diri-Nya Ada. Sedangkan pengertian illa juga menunjukan pada kembali sesuatu dalam kesatuan-Nya yang bersifat keabadian.

Jika memperhatikan tatanan ontologis, bila diterapkan La dan illa akan mengisyaratkan pemisahan antara ada Ilahi dan para makhluknya. Dengan demikian, Ad-Nya pertama menjadi tabu bagi adanya yang kedua. Pengetian La dan illa dalam masyarakat sufi memiliki tiga makna. Pertama, adalah tiada Tuhan melainkan Allah. Kedua adalah tiada Ma’bud melainkan Allah dan ketiga tiada maujud melainkan Allah. Pengertian pertama mengacu pada keberadaan pada kekuasaan-Nya. Yaitu penegasan tiada Tuhan yang pantas menjadi penguasa selain Allah yang Esa. Pengertian kedua, Allah adalah Zat yang wajib disembah sebab Allah bersifat disembah. Tiada penguasa yang wajib disembah selain Allah, Zat yang Maha Suci. Sedangkan pengertian ketiga, Allah adalah awal segala yang berwujud. Sebab Zat-Nya adalah wujud yang pertama dan tak berakhir.

Ketiga pengertian tersebut di atas adalah suatu kesatuan yang tak dapat dikaji secara terpisah. Sebab, segala bentuk yang maujud ini pada hakikatnya sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah Allah. Jadi, kalau yang ada ini semuanya dikatakan ada, artinya ada dalam Allah. Inilah konsep dasar dari Widhatul al-Wujud. Sementara, tingkatan kedua dari alam Ahadiyah adalah Nafi Uslub, yaitu, tingkat ketiadaan-Nya yang ada. Dalam ketiadaan-Nya, Allah tak dapat digambarkan atau dilukiskan oleh siapa pun. Allah dalam keadaan Al-Ama, yaitu, tingkatan yang tak dapat diketahui. Allah dalam tingkatan ini hanya mempunyai hubungan murni dalam hakikat dan tanpa bentuk. Sedang tingkatan yang ketiga dalam alam Ahadiyah adalah Tahlil. Pengertian Tahlil berarti kondisi Tuhan yang bermakna La illa illaha. Tahlil pun bermakna suatu kondisi pemujaan Allah dengan pengucapan syahadat tentang persaksian akan keberadaan-Nya.

Dalam kalimah Syahadah yang diucapkan dengan niat bulat dan mengakui bahwa Allah berkuasa sendirian, tidak menghendaki pertolongan dari siapa pun, ia suci dan kaya. Kalimah Syahadah adalah kalimat yang wajib bagi pemeluk Islam, di mana intinya adalah pengakuan akan adanya Allah yang menjadi pemimpin kehidupan, di samping itu, adanya pengakuan rasul Allah. Yaitu Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Selanjutnya, tingkat empat adalah Ahadiyah Tasbih, yang bermakna kemahaluasan Allah. Tingkatan ini berintikan kalimat Subhhanallah, artinya, maha suci Allah dan mengingatkan serta menunjukan seluruh keyakinan untuk selalu mempersucikan-Nya.

Sedang pada Serat Wirid Hidayat Jati, ajaran pertamanya dikenal dengan sebutan Sajaratul Yakin. Yaitu sebagai lambang pohon kehidupan yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Kajeng Sejati dan memiki makna pengertian tentang kehidupan atau hayyu.

Hayyu berarti atma, jiwa atau ruh. Dalam Sajaratul Yakin Allah adalah Wujud al-Sirf, kondisi wujud yang utama. Atma-Nya belum tersifati, namun ruh-Nya adalah al-Lahut (bersifat ke-ilahi-an). Ia merupakan hakikat zat mutlak dan qadim, yaitu, asal zat dari segala zat yang bersifat abadi. Zat-Nya tak ada dalam penguraian. Segala penguraian-Nya adalah bersifat negatif. Sebab Allah bersifat Makiyyah al Makiyyah, yaitu, inti dari segala zat yang ada di kemudian hari. Atmanya adalah esa dari yang tak teruraikan dan diuraikan.

Zat ruh-Nya sesungguhnya adalah zat yang bersifat esa. Ruh itulah sejatinya Tuhan Yang Mahasuci. Ruh-Nya adalah subyek absolut, di mana benda yang termasuk subyek individu hanyalah obyektivisasi-obyektivisasi ilusi. Sebab Allah adalah Kunh al-Dhat, asalnya zat terbentuk.

Di dalam kitabnya Daqiqul Akbar, Imam Abdurahman menuliskan, pada awal permulaan Allah menciptakan sebatang pohon kayu bercabang empat. Pohon kayu tersebut dikenal dengan Syajaratul Yakin. Dan Syajaratul Yakin tercipta dalam alam kesunyian yang bersifat qadim dan azali. Pengertian sunyi di sini bukan bermakna tak adanya sesuatu. Namun bermakna belum terciptanya alam, kecuali tajjali-Nya yang pertama dalam bentuk Syajaratul Yakin. Sedangkan pengertian qadim dan azali adalah wujud dari sifat-Nya yang terawal dan tak berakhir. Zat-Nya adalah terdahulu, tak ada sesuatu pun yang mendahului dan tak ada akhir karena masa.

Syajaratul yakin afdalah awal sifat-Nya. Dalam pohon kehidupan sifat-Nya yang menonjol adalah tentang hidup — hidup (al-Hayat) adalah sifat wajib yang ada pada Diri-Nya. Sebab sifat al-Hayat adalah qadim dan azali. Al-Hayat dalam segala martabat-Nya menjadi pangkal bagi segala macam kenyataan yang lahir dan kekal. karena hidup atau hayyu atau atma adalah subyek yang absolut, maka, hakikat atma atau hidup adalah mutlak yang qadim. Dan Allah adalah zat pertama dan sumber dari hidup itu sendiri. Diri-Nya adalah kekal bersamaan dengan kekalnya zat kehidupan.

Keduanya adalah ada dalam kemanunggalan. Zat-Nya yang al-Hayat adalah sumber munculnya perkara-perkara sifat wajib-Nya. Yaitu, ilmu, iradat, kalam dan baqa. Artinya, karena adanya ruh atau hayyu (al-Hayat), maka, muncul ilmu (pengetahuan). Timbulnya pengetahuan (al-ilm) menciptakan atau mengalirnya kehendak (iradat), dan firman-Nya. Dan ketiga sifat-Nya adalah kekal, baqa.

ABU YAZID AL BUSTHAMI – RAJA PARA MISTIK

ABU YAZID AL BUSTHAMI – RAJA PARA MISTIK

Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Surusyan al-Busthami, lahir di Bustham terletak di bagian timur Laut Persi. Meninggal di Bustham pada tahun 261 H/874 M. Beliau merupakan salah seorang Sulton Aulia, yang juga sebagai salah satu Syeikh yang ada dalam silsilah dalam thoriqoh Sadziliyah dan beberapa thoriqoh yang lain. Kakek Abu Yazid merupakan penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah salah satu di antara orang-orang terkemuka di Bustham.

Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia masih berada dalam kandungan. “Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya”, ibunya sering berkata pada Abu Yazid, “engkau yang masih berada didalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali”. Pernyataan itu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri. Setelah sampai waktunya, si ibu mengirim Abu Yazid ke sekolah untuk mempelajari Al Qur-an. Pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surat Luqman yang berbunyi, “Berterima kasihlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu”.

Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid, ia lalu meletakkan batu tulisnya dan berkata kepada gurunya, “ijinkanlah aku pulang, ada yang hendak kukatakan pada ibuku”. Si guru memberi ijin, Abu Yazid lalu pulang kerumah. Ibunya menyambut dengan kata-kata,”Thoifur, mengapa engkau sudah pulang ? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah sesuatu kejadian istimewa ?”. “Tidak” jawab Abu Yazid, “Pelajaranku sampai pada ayat dimana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepada-Nya dan kepada engkau wahai ibu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Maka wahai ibu, mintalah diriku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata”. “Anakku” jawab ibunya, “aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau menjadi hamba Allah.

Di kemudian hari Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling ringan, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku, itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Allah. Kejadiannya adalah sebagai berikut : Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka akupun mengambilnya, ternyata didalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itupun kosong. Oleh karena itu, aku pergi kesungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur”. Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa kemudian mendo’akanku. Waktu itu terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku. “Mengapa engkau tetap memegang kendi itu ?” ibuku bertanya. “Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena”, jawabku. Kemudian ibu berkata kepadaku, “Biarkan saja pintu itu setengah terbuka”. Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali”.

Abu Zayid melakukan disiplin diri dengan terus menerus dan berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan. Diantara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq. Ketika Abu Yazid sedang duduk dihadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata kepadanya,”Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu”.”Jendela? Jendela yang mana?”, tanya Abu Yazid.”Telah sekian lama engkau belajar di sini dan tidak pernah melihat jendela itu?””Tidak”, jawab Abu Yazid, “apakah peduliku dengan jendela. Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang kesini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini”.”Jika demikian”, kata si guru,” kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai”.

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Makkah (diartikan menghina kota Makkah), karena itu segera ia memutar langkahnya.”Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Allah”, Abu Yazid berkata mengenai guru tadi,”niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang dilakukannya”. Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah masjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan menghormati masjid itu. Setiap kali Abu Yazid tiba di depan sebuah masjid, beberapa saat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.”Mengapa engkau selalu berlaku demikian ?” tanya salah seseorang kepadanya. “Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid. Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid”, jawabnya. (Lihatlah do’a Nabi Adam atau do’a Nabi Yunus a.s “Laa ilaha ila anta Subhanaka inni kuntum minadholimin”, Tidak ada tuhan melainkan engkau ya Allah, sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang dholim. Atau lihat do’a Abunawas,’ Ya Allah kalau Engkau masukkan aku ke dalam sorga, rasanya tidaklah pantas aku berada di dalamnya. Tetapi kalau aku Engkau masukkan ke dalam neraka, aku tidak akan tahan, aku tidak akan kuat ya Allah, maka terimalah saja taubatku).

Suatu ketika Abu Yazid di dalam perjalanan, ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya.”Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!”, seseorang berseru. Setelah beberapa kali mendengar seruan ini, akhirnya Abu Yazid menjawab, “Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban”. Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada diatas punggung onta tersebut. Barulah ia percaya setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban tersebut. “Maha besar Allah, benar-benar menakjubkan!”, seru si pemuda.”Jika kusembunyikan kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku”, kata Abu Yazid kepadanya. “Tetapi jika kujelaskan kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?”

MI’ROJ

Abu Yazid berkisah, “Dengan tatapan yang pasti aku memandang Allah setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluk-Nya, menerangi diriku dengan Cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban rahasia-Nya dan menunjukkan kebesaran-Nya kepadaku. Setelah menatap Allah akupun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diri ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibandingkan dengan Cahaya-Nya, kebesaran diriku sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya, kemuliaan diriku hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaan-Nya. Di dalam Allah segalanya suci sedang didalam diriku segalanya kotor dan cemar. Bila kurenungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Allah. Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaran-Nya. Apapun yang telah kulakukan, hanya karena kemaha kuasaan-Nya. Apapun yang telah terlihat oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Allah, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepada-Nya.

Hiasilah diriku dengan ke-Esaan-Mu, sehingga apabila hamba-hamba-Mu memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaan-Mu. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta mata, bukan diriku ini”. Keinginanku ini dikabulkan-Nya. Ditaruh-Nya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku. Setelah itu, Dia berkata, “temuilah hamba-hamba-Ku itu”. Maka kulanjutkan pula pengembaraan yang tak berkesudahan di lautan tanpa tepi itu untuk beberapa lama, aku katakan, “Tidak ada seorang manusiapun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini”. Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di telapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku, bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan. Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaan Allah. Surga dan neraka ditunjukkan kepada ruhku itu tetapi ia tidak peduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya peduli ?.

Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak dipedulikannya. Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Allah, Nabi Muhammad SAW, terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kujejakkan kaki ke dalam lautan api yang pertama itu, niscaya aku hangus binasa. Aku sedemikian gentar dan bingung sehinga aku menjadi sirna. Tetapi betapapun besar keinginanku, aku tidak berani memandang tiang perkemahan Muhammad Rasulullah Saw. Walaupun aku telah berjumpa dengan Allah, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Muhammad Rasulullah Saw. Kemudian Abu Yazid berkata, “Ya Allah, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju kepada-Mu selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus keakuan ini, apakah yang harus kulakukan?” Maka terdengarlah perintah, “Untuk melepas keakuanmu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad Saw. Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya. Maka terjunlah aku ke dalam lautan api yang tak bertepi dan kutenggelamkan diriku kedalam tirai-tirai cahaya yang mengelilingi Muhammad Rasululah Saw. Dan kemudian tak kulihat diriku sendiri, yang kulihat Muhammad Rasulullah Saw. Aku terdampar dan kulihat Abu Yazid berkata,” aku adalah debu kaki Muhammad, maka aku akan mengikuti jejak beliau Saw.

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir kepinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu. Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata,” Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Abu Yazid adalah “Raja diantara kaum mistik”, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu ?” Abu Yazid menjawab,” Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku, ‘Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja diantara para mistik?’. Begitulah yang sampai dalam pikiranku dan karena itulah aku memberi jalan kepadanya”.

Ada seorang pertapa di antara tokoh suci terkenal di Bustham yang mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau. Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid, “pada hari ini genap tiga puluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan do’a sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu”. “Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikitpun dari ceramahku ini tidak akan dapat engkau hayati”. “Mengapa demikian ?”, tanya si murid. “Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri”, jawab Abu Yazid. “Apakah yang harus kulakukan ?”, tanya si murid pula. “Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya”, jawab Abu Yazid. “Akan kuterima !. Katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan”. “Baiklah!”, jawab Abu Yazid. “Sekarang ini juga, cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang dilehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan pada mereka,”Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku”. Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat dimana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan”. “Maha besar Allah! Tiada Tuhan kecuali Allah”, cetus si murid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu. “Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim”, kata Abu Yazid. “Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Allah”. “Mengapa begitu ?”, tanya si murid. “Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, dan bukan untuk memuliakan Allah. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutukan Allah ?”. “Saran-saranmu tadi tidak dapat kulaksanakan. Berikanlah saran-saran yang lain”, si murid keberatan. “Hanya itu yang dapat kusarankan”, Abu Yazid menegaskan. “Aku tak sanggup melaksanakannya”, si murid mengulangi kata-katanya. “Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku”, kata Abu Yazid. (Besi mesti dipanasi untuk dijadikan pedang, batu kotor mesti digosok supaya jadi berlian. “Gosoklah berlian imanmu dengan Laa illaha ilAllah”. ‘Jadidu Imanakum bi Laa illaha ilAllah’).

“Engkau dapat berjalan di atas air”, orang-orang berkata kepada Abu Yazid. “Sepotong kayupun dapat melakukan hal itu”, jawab Abu Yazid. “Engkau dapat terbang di angkasa”. “Seekor burung pun dapat melakukan itu”. “Engkau dapat pergi ke Ka’bah dalam satu malam”. ” Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam”. “Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati ?”, mereka bertanya kepada Abu Yazid. Abu Yazid menjawab, “Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada selain Allah Swt.

Sedemikian khusyuknya Abu Yazid dalam berbakti kepada Allah, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya, yang senantiasa menyertainya selama 20 tahun, ia akan bertanya,” Anakku, siapakah namamu ?” Suatu ketika si murid berkata pada Abu Yazid,”Guru, apakah engkau memperolok-olokkanku. Telah 20 tahun aku mengabdi kepadamu, tetapi, setiap hari engkau menanyakan namaku”. “Anakku”, Abu Yazid menjawab,”aku tidak memperolok-olokkanmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan olehku”.

Abu Yazid mengisahkan : Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah Syaikh dan tokoh suci zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Allah mengutus seseorang untuk membukakan hatiku. Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang ke-empat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu. Setelah mengamati dengan seksama, terlihat olehku tanda-tanda kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya. Lelaki bermata satu itu memandangiku. “Sejauh ini engkau memanggilku”, katanya,” hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?””Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu,”Darimanakah engkau datang?” “Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh”, kemudian ia menambahkan,”berhati-hatilah Abu Yazid, Jagalah hatimu!”Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu. Menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-Mu limpahkanlah ampunan-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena akupun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-Mu. Kemudian Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya dengan menyebut nama Allah pada tahun 261 H /874 M.

MELIHAT ALLAH

MELIHAT ALLAH

Mahzab Imam AN-NAFRI dalam Makrifat Ketuhanan
“Ilmu yang rapi tersimpan karena mutunya,tidak boleh dijamah oleh yang bukan ahlinya”
AN – NAFRI sama halnya dengan para sufi lainya, tiada yang dimasguli melainkan yang Maha Tunggal itu.Ma’rifat kepada Allah,sampai padaNYA,melihatNYA, pemahaman kepadaNYA, melihatNYA,pemahaman tentangNYA,mendengarkan kepadaNYA,
Saling bertutur kata,berkawan duduk semajelis,tinggal bersama dalam hadirat,dan menjalin persahabatanyang mulia disisi ambang kesudahan.
Kesudahan dimana Roh manusia mampu melayang,An-Nafri sama halnya para sufi lainya,tidak melihat jalan lain kecuali,semua harus ditanggalkan ( TAJRIED ) dan melepaskan kedua alas kaki ( KHAL’UN NA’LAIN ).
“Lepaskan kedua alas kakimu bahwasanya engkau berada dilembah suci Thuwa “ (THOHA 20:12 ).
Dua alas kaki adalah jasad dan jiwa,jasad dan jiwa kedua itulah yang harus ditanggalkan dan dilepaskan. Tuhanpun berkata kepadanya “ Akulah Allah,takkan sampai engkau kepadaku dengan tubuhmu !.”
Usahakan pelepasan yang tidak sampai jatuh kedalam “Kependitaan” yang runtuh aatu Kezuhudan yang hampa dan sia-sia.
Kendaraan apa yangdipakai An-Nafri ? itulah ILMU.
Ilmu : Bagaikan hewan tunggangan menuju sasaran.Jaga dan awasi selalu,kalau tidak maka berbalik engkau yang akan ditunggangi dan engkau yang akan digiring bersamanya dan tujuanmu berbelok kearah dirinya (ilmu). Perlu kita ketahui bila sudah sampai batas tertentu ilmu harus kita tinggalkan dan perlu kita ingat bahwa ilmu adalah jalan dan kendaraan dalam perjalan menuju kepada apa yang jadi tujuan kita.disini kita tinggal dan kita ubah kendaraan tersebut.kendaraan ilmusudah usai.Karena perjalanan mendatang keluar dari alam bagian-bagian,dari alam sesuatu-sesuatu, alam kerajaan dunia dan langit.menuju ke alam yang mencakup keseluruhan, Yang Maha Perkasa.
Dan Panca Indera pun sudah tak berguna lagi,juga cara berfikir berdasar akal belaka (MANTIK). Semua kita tinggalkan cara maupun pengalaman-pengalamannya.menuju perantauan baru yang diberinama PENGENALAN (AL MA’RIFAH) Ma’rifah memisahkan diri dari ilmu, karena ilmu membahas dan bekisar pada alam semesta, sedang ma’rifah membahas pencipta alam semesta (yang Ghoib) dan kita beralih ke ma’rifah, ke hati – mata hati, ke pendapat sufiah.
Memang sulit dan tak dapat dipungkiri kalau alam benda itu adalah yang selalu dirindukan oleh nafsu, oleh jiwa dan itu memang medannya. Dan perlu digaris bawahi ilmu adalah kebutuhan jiwa. Dan jiwa sendiri masih berkaitan jasad. Dan semua itu tak bisa lepas dari akal, mantik, dan ilmu itu yang kedudukannya sebagai pelayan – pelayan nafsu dan kendaraannya.
Tiada jalan keluar dari akal dan mantik, dan tiada jalan keluar dari tawanan panca indra selain dengan jalan menelanjangi diri dan membebaskan diri dari hawa nafsu dengan cara mengalahkan, menekan, menundukkan, membelenggu dan mendiamkan serta tidak melayani keinginan-keinginannya. Hal ini dapat diistilahkan dengan kata-kata “keluar dari jiwa atau melangkahi dan menyeberangi”
“Keluarlah dari jiwamu, keluarlah engkau dari kemauan kerasmu ! keluarlah engkau dari amal perbuatanmu!, keluarlah engkau dari namamu!, serta keluarlah engkau dari segala apa yang nyata! “ dan
Jadikanlah arah tuntutanmu ialah ALLAH
Kemauan kerasmu ialah ALLAH
Dan dzikirmu (ingatanmu) ialah ALLAH
Dan ucapanmu ialah ALLAH
Dan pemikiranmu ialah ALLAH
Pembahasan tentang Allah bermuladalam nama-nama, lalu sifat-sifat, kemudian Af’al (perbuatan), kesudahannya kepada dzat. Maka tiada perbuatan bagi nama-nama dan sifat-sifat ilahiat, melainkan dengan dzat ilahiat. Dzat itu ialah Baqinayah Qoyyumiah (berdiri sendiri), Shomadiah (kekal, tempat segala pinta), Ahadiah (Ketunggalan), dan Al Haqqiah (yang Maha Berhak). Dan tiada Nama-nama itumelainkan bergantung juga kepada Dzat. Adapun wujud yang wajib yang hak ialah untuk Dzat itu sendiri. Dengan sampainya ma’rifat kepada dzat,berhentilah ma’rifat itu. Seperti ilmu yang tidak berkemampuan. Dan seorang abid akan mencapai kelemahannya dan keheran-heran seperti apa yang pernah dialaminya bahwa kelemahan dalam pencapaian adalah merupakan mata pencapaian .iapun tertegun dihadapan laisa kamistlihi syaiun (tiada satupun yang menyerupai).
Dan disini diharuskan mengubah kendaraan dan mengganti. Untuk meneruskan perjalanan diharuskan keluar dari ma’rifah.tahap ini diberinama Sopan santun. Dan didalam tempat yang lain…AL WAQFAH (Tempat penghentian berdiri), dimana tiada lorong untuk perpindahan, dimana tiada jalan sudah berkesudahan,menuju kepada keghaiban yang mutlak. Akan halnya dengan huruf hendaknya engkau keluar dari huruf dan keluar dari pada apa yang ada pada huruf. Huruf itu menghimpun segala ilmu-ilmu, ma’rifat-ma’rifat, lintasan-lintasan hati, ibarat-ibarat dan arti makna artimakna.
“Hendaknya engkau keluar dari huruf dan Mahruf (mahruf= apa yang diberitakan oleh huruf). Setelah keluar dari huruf dan mahruf, kita akan menjadi kosong hatinya, dari lintasan-lintasan hati, dari ibarat-ibarat dan dari arti makna dan hakikat-hakikat panca indra yang bersifat kebumian semuanya. Dan bersucilah agar Allah berkenan Ber Tajalli kepadaNYA.
Tibalah sekarang giliran AL RU’YAH (pengelihatan) disusul dengan AL RU’YATUL KUBRO (pengelihatan Agung) atau penglihatan akan semua hal ihwal (keadaan).Selanjutnya berkawan duduk semajlis, bersamaan menjalin persahabatan “Maqom Hadirat” untuk selamanya bersama Allah yang demikian itu adalah Maqom AL KHULAH (Setia Kawan) AL MAHABBAH (Cinta Kasih)
Inilah Maqom para nabi-nabi,wali-wali, para a’uliya bagi Yang Maha Penyayang.
Disini kita tidak dapat menyebutkan apa yang sedang kita lihat didalam Ber Tajalli, dan apa yang dilihat oleh penglihatan Hati. Itu adalah rahasia Huruf Ilahiat dan Nama-nama Ilahiat.
“ Engkau mengetahui Rahasia Huruf, Sedang engkau masih dalam kemanusiaanmu niscaya akan gila akal budimu”
“ Engkau mengetahui Rahasia Nama (ASMA’), Sedang engkau masih berada dalam kemanusiaanmu niscaya akan gila-lah Hati Sanubarimu” Tuhan berkata kepadanya : “Tiada izin bagimu, kemudian tiada izin bagimu, kemudian tujuh puluh kali tiada juga izin bagimu untuk membeberkan terhadap apa yang daku percayakan kepadamu dari rahasia-rahasia huruf-KU, dan nama-nama-Ku……
Setelah sampai pada maqom ini, apa yang disebut Maqom Khilafah yang amat besar, yang didalamnya seorang hamba akan memiliki Rabbaniah ( Sifat kekuasaan atas sesuatu-sesuatu ). Dan ia akan menjadi seorang Hamba Robbani (Insan Penaka Tuhan ) yang disebutkan didalam Alqur’an :

Tauhid Sejati


TAUHID SEJATI






Average

KETERANGAN BANGSA CHUKMI 4 PERKARA
1. Jalannya mati, 2. Hilangnya mati, 3. Selamanya mati, 4. Tempatnya mati.
4. Perkara tadi pembukaan ghaibnya dzat gusti, oleh karena itu sayangilah, setelahnya terima keterangan yang dibawah ini :
1. Jalannya Mati
Jalannya mati ialah Hidayatullah, maksudnya menunjukan keraton yang dirakit didalam tubuh manusia jadi dzatnya yang tidak pindah lagi.
2. Duduknya Mati
Duduknya mati itu petunjuk gusti yang selamat dari keadaan jati, artinya tahu kesempurnaannya.
3. Ketemu Mati/Selamanya Mati
Ketemu mati/selamanya mati ialah sabar, artinya pasrah segala-galanya kepada gusti = Iradatullah.
4. Tempatnya Mati
Tempatnya mati itu adanya didalam pekerjaan gusti, maksdunya ialah sempurnanya dzat yang mempunyai sifat esa, supaya diketahui keterangannya dibawah ini ;
1. Sahadat tidak pakai Iman
2. Takbir tidak pakai Tauhid
3. Syariat tidak pakai Ma’rifat
Sahadat tidak pakai iman nyatanya tunggal, Takbir tidak pakai Tauhid kenyataannya hilangnya tunggal, yang senang didalam dzatullah yang tunggal yang senang kepada sifatullah = yang sempurna sifatnya.
Ini menerangkan waktu roh mulai keluar ;
1. Mula-mula dari badan ; ialah dari telapak kaki pujinya Layakrujullah Ilallah.
2. Roh jalan lagi, berhenti di dengkul pujinya Illhuallah
3. Roh jalan lagi, berhenti di puser pujinya Lamujudwani Ilallah
4. Roh jalan lagi, berhenti di hati pujinya Yahuilallah
5. Roh jalan lagi, berhenti dilaki-lakian pujinya Yuwailallah
6. Roh jalan lagi, berhenti dimuka pujinya Hakilallah
7. Roh jalan lagi, berhenti dimata pujinya Nyawa sih badan sepi.
Adapun ghaibnya, kenyataannya ada 6 perkara :
1. Jaman geraknya jati rupanya hitam, jaman yang keluar dari badan kita pribadi.
2. Melihat warna merah, pekerjaan yang masih samar-samar
3. Melihat warna kuning, itupun masih remang-remang
4. Melihat warna putih, itu tandanya sudah kumpul, jadi keadaan jati yang tunggal gilang gemilang cahayanya, itulah tanda bayangan dari keadaan jati yang sempurna, yang terang tidak ada yang menghalanginya, tapi walaupun demikian belum sampai juga sebab masih jauh dari rasa gaib. Dari itu harus percaya kepada qudrat yang kuasa.
Tauhid maksudnya pasrah kepada kehendaknya, ma’rifat maksudnya tahu kepada ilmunya, islam maksudnya selamat dari ilmunya.


5. Melihat yang belum tahu pada warna. Sejati yang mulya tak ada batasnya.
6. Lengkap riwayatnya waliullah yang menerima anugerah yang maha suci, hanya sayang sebagian masih dirahasiakan oleh para wali-wali.
Artinya Nabi itu Nabat ( tumbuhan )
Muhammad itu Dzat (darah)

HARI YANG 7 DI DALAM ANGGOTA MANUSIA
No Hari Naptu Sifat Nabi Malaikat Istri hari
1. Minggu 5 Matahari Isa/Musa Isrofil Widaningsih
2. Senin 4 Kembang Ibrahim/Ahmad Isroil Sukasari
3. Selasa 3 Api Yusuf/Yunus Jaruman Ratna Ningsih
4. Rabu 7 Daun Ibrahim/Nuh Haruman Ratna Komala
5. Kamis 8 Mega Sulaiman Mukarobin Mayang Sari
6. Jum’at 6 Air Muhammad Jibril Ratna Ningrum
7. Sabtu 9 Bumi Adam Mikail Arum Sari

KETERANGAN 30 HURUF HIJAIYAH ; 3
No Nabat No Hewan No Manusia
1. Alif = Nama 11 Jai = Kulit 21 Kop = Kaki kanan
2. Ba = Bahan 12 Sin = Darah 22 Kap = Kaki kiri
3. Ta = Rambut 13 Syin = Daging 23 Lam = Berdirinya
4. Tsa = Kuping 14 Sod = Tangan 24 Mim = Jantung
5. Jim = Mata 15 Do = Tulang 25 Nun = Empedu
6. Ha = Hidung 16 To = Sumsum 26 Waw = Hati
7. Ho = Ucpan lidah 17 Dho = Lamat 27 Ha = Limpa
8. Dal = Lidah/urt bsar 18 Ain = Nafas 28 Lam alif = Mamaras
9. Zal = Laki-lakian 19 Gin = Usus 29 Hamza = Tegasnya
10. ro = Rasa 20 Pa = Ginjal 30 Ya = Manusia

KETERANGAN HAK 30 HURUF – 2 = 28 HURUF
Hak Tuhan Hak Malaikat Hak Nabi
Sa = Kuping Kap = Kaki kiri Ain = Nafas
Jim = Mata Lam = Berdirinya Gin = Usus/Peujit
Ha = Hidung Mim = Jantung Pa = Ginjal
Ho = Mulut Nun = Empedu Kop = Kaki kanan

Hak Bapak Hak Ibu Hak Kita Hak Saudara
Ta = Rambut Ro = Urat Ha = Limpa Dal = Lidah
Waw = Hati Jai = Kulit Lamalif = Mamaras Zal = Laki-lakian
To = Sumsum Sin = Darah Hamza = Wjdnya/tgsnya Sod = Tangan
Dho = Lamat Syin = Daging Ya = Manusia Dod = Tulang

HAK ANGGOTA YANG 7

1. Nabi Ibrahim = Nyawa = Wujud = Ada
2. Nabi Yusuf = Cahaya = Sifat = Rupa
3. Nabi Isa = Roh = Johia = Nyata
4. Nabi Muammad = Nur = Roh = Kedalam
5. Nabi Musa = Ceritaan = Nafas = Keluar
6. Nabi Daud = Suara = Hawa = Darah
7. Nabi Sulaiman = Kesaktian = Nafsu = Tulang

KETERANGAN ALLAH PADA HAKIKATNYA

۱ﻞ ﻞ ﻫ ﱠ

Hakikatnya
Alif = Allah ۱ = Jibril = Nafas
Lam = Ta’bil ﻞ = Mikail = Tanafas
Lam = Jalala ﻞ = Isrofil = Anfas
Ha = Adadah ﻫ = Isroil = Nufus
ώ Haruman, Jaruman, Mukarobin > Nafas Nafsiyah

BERDIRINYA MANUSIA SEMPURNA
Nitis – Nufus – Nusur – Langgeng
Nitis artinya matinya balik lagi rohnya ke anak cucunya
Nufus artinya matinya sudah janji akan nyusul ke anak
Nusur artinya cucunya (mati didalam hidup) awet hidupnya
Langgeng artinya hidupnya bisa gonta-ganti rupa
Allah itu ada berapa kalimah ? 4 hurup ke 5 tasjid, apa wujudnya Allah itu ? wujudnya nafas.
Inama sodokati lil fukaro wal masriki wabinis sabil.
Inama = pekerjaan. Sodokat = yang sungguh-sungguh
Lilfukaro = keluar dari pikiran sendiri
Wal masriki = yang betul harus dipikirkan.
Maka hal ini dapat kiranya betul-betul dihayati, bahwa sifat Allah itu ada pada manusia-manusia itu sendiri.

ARTINYA UCAP MANUSIA
Mim = Muhammad Ma = Maha Suci
Nun = Nukat Ghaib Nu = Nurullah dari Bapak
Sa = Rasul Si = Syirullah dari Ibu
Waw = Adam (jasad badan) Ya = Jadinya kita

KETERANGAN BANGSA PANGERAN DAN ABDINYA
No Bangsa Allah No Bangsa Pangeran No Bangsa Muhammad
1. Syir 1. Pangucap 1. Wujud
2. Budi 2. Pangambue 2. Ilmu
3. Cipta 3. Pangrungu 3. Nur
4. Rasa 4. Paninggal 4. Suhud

No Bangsa Rosul No Bangsa Adam No Bangsa Kaula
1. Nafas 1. Adam Sarpin = Roh kudus 1. Wadi = Bunder
2. Tanafas 2. Adam Syaraf = Roh rohani 2. Madi = Putihnya
3. Anfas 3. Adam Mungkin = Roh idofi 3. Mani = Hitamnya
4. Nufus 4. Adam Akal = Jasmani 4. Manikem = Anaknya

TITIPAN YANG ADA DI MANUSIA
Dari Allah = Syir, Budi, Cipta, Rasa
Dari Pangeran = Pengucapan, Penciuman, Pendengaran, Penglihatan
Dari Rosul = Mafas, Tanafas, Anfas, Nufus
Dari Bapak = Kulit, Tulang, Akal, Urat
Dari Ibu = Daging, Darah, Jeroan, Sumsum

SAUDARA 7 YANG BARENG LAHIR
1. Sang Pamuntas Jalan = Leluhur
2. Sang Banyu Kang Kawa = Air Ketuban
3. Sang Pasiliran Jati = Bungukusan Otak
4. Sang Tali Ari-Ari = Tali Ari-Ari
5. Sang Godebal Jati = Bali
6. Sang Kutu Watun = Darah
7. Sang Malaikat Ireng = Kalangkang (Bayangan)

ISLAM DI DALAM ISLAM
ROHUM BASIRUN QUDRAT ALLAH

Angin Syir Yg Menetukan Ikro

Lailahailallah Itu Ada 40 Akoid = 1 Seharusnya
Muhammadurasulallah Ada 9 Akoid
20 Wajibnya Ibu 9 Rosulnya Istri (Bini)
20 Mustahilnya Bapak 1 Seharusnya Anak

Jumlah 50 Akoid, Duliman 1 Seharusnya
Ibu = Ya Ilahi = Jibril
Bapak = Ya Robbi = Mikail
Kita = Ya Saidi Ya Maulana = Jaruman
Ibu Perempuan = Ya Allah = Isrofil
Ibu Lelaki = Ya Tuhanku = Isroil
Istri = Ya Robal = Mukarobin
Anak Kita = Arsil Ajina = Haruman

KETERANGAN ۱ب س ﻢ

Alif Sifatnya Wujud = Allah = Kita = Allah
Ba Sifatnya Basirum = Langit = Bapak = Bahan Kita
Sin Sifatnya Samiun = Air = Syir = Suci
Mim Sifatnya Mutakalimun = Bumi = Ibu = Maha Suci

Orang Nafsiyah Wujudnya Nafas
Orang Penglihatan Wujudnya Mata
Orang Pendengaran Wujudnya Kuping
Orang Ceritaan Wujudnya Mulut

ISLAM ADA 4 PERKARA

1. Syariat = Peraturan-Peraturan Bersumber Di Badan
2. Tarikat = Perbuatan Bersumber Di Hati
3. Kahikat = Kelakuan Bersumber Di Nyawa
4. Ma’rifat = Nyata Bersumber Di Rasa

Allah Yang Memberi Hidup
Muhammad Adalah Qadam/Roh
Rosul Adalah Hidup/Nafas
Adam Adalah Jisim (Badan)
Muhammad Yang Menanggung Wujud
Rosul Yang Menanggung Hidup
Alif Bismillah, Berkatnya Alif Bismillah, Alif Jadum Muhammad Jadum, Jadum Ilallah, Saran Kana Mimbaki Bakiyan Ilallah
ﺍ ﻠﻪ ﻫﺪ
40 Ideran = 11 – 7 Anggota 4 Anasir 42 Pal Nabi = 11 – 7 Hari
4 Madzhab (2 Antara 2) Timur, Barat, Selatan, Utara
4 Anasir = Air, Api, Angin, Bumi
Dibawah Bumi Di Atas Bumi
Bulan Air, Api, Angina, Tanah
Bintang Manusia, Hewan, Tumbuh-Tumbuhan
Matahari
7+5 =12 …..? 7=3 Hewan 1 Seharusnya 3 Bulan, Bintang, Matahari. 5 – 4 Huruf Kelima Tajwid.

30 Huruf 9 Roh Terjadinya Nafas Didalam Ideran Badan Kita Yang Masuk 7 Anggota Diantara Lelaki Dan Wanita.

KETERANGAN TAJWID

Islam Itu Harus Sholat Yang Tak Ada Hentinya.
Dalilnya Tajwid = Mukhalapatu Lilhawadisi.
Dalilnya Islam = Hayatun Bihayatin Daiman Abada
KETERANGAN BAHAN/WIJINING MANUSIA

1. Wadi = Rupanya Merah, Kejadiannya Darah Kita Pujinya Layakrifu Ilallah
2. Madi = Rupanya Hitam, Kejadiannya Air Kita Pujinya Lamakliuda Ilallah
3. Mani = Rupanya Putih, Kejadiannya Akal Pikiran Kita Pujinya Lahuyuda Ilallah
4. Manikem = Rupanya Kuning, Kejadiannya Cahaya Kita Pujinya Lamayuda Ilallah

KETERANGAN ANASIR MANUSIA
1. Asal Bumi = Rupanya Hitam, Kejadiannya Wujud Kita Hakikatnya Dzat Kita, Jadinya Kulit Daging. Pujinya Ashadu Ala Ilahailallah
2. Asal Api = Rupanya Merah, Kejadiannya Nur Sifat Kita Jadinya Urat Tulang. Pujinya Wa Ashadu Ana Muhammadaraulallah
3. Asal Angin = Rupanya Kuning, Kejadiannya Ilmu Kita, (Af’al Kita) Jadinya Akal Pikiran, Pujinya La Syarikalahu Lailahaila Ana
4. Asal Air = Rupanya Putih, Kejadiannya Suhud Kita Hakikatnya Asama Kita, Jadinya Darah Sumsum, Pujinya Sahidna Allampusihin Wa Sabit Indana Inahu Lailahailahua.

KETERANGAN ANASIR MUHAMMAD
1. Bumi Barba = Ratunya Bumi, Jadi Jisimnya Muhammad
2. Api Mur Kadim = Ratunya Api, Jadi Cahayanya Muhammad
3. Angin Abdul Somad = Ratunya Angin, Jadi Nyawanya Muhammad
4. Air Sarbantaburan = Ratunya Air, Jadi Hidupnya Muhammad

KETERANGAN ANASIR JADINYA SHOLAT
1. Asal Api = Syariat Jadi Berdirinya Sholat
2. Asal Angina = Tarekat Jadi Rukunya Sholat
3. Asal Air = Hakikat Jadi Sujudnya Sholat
4. Asal Bumi = Ma’rifat Jadi Lungguhnya Sholat

KETERANGAN SHOLAT
1. Sholat Wujud = Adanya Didalam Ening, Adanya Didalam Langgeng, Aku Dzatnya Langgeng.
2. Sholat Daim = Ada Rasa Dalam Polah, Ada Olah Dalam Olah, Aku Polahnya Allah
3. Sholat Mutlak = Akulah Akunya Allah
4. Sholat Tul Kusta = Sang Hitam Ada, Ada Dalam Rasanya Sang Ening Ada Dalam Rasa, Akulah Sejatinya Rasa
5. Sholat Jati Sebelim Ada Sholat = Sukma Sejatinya Badan Darahnya Hati Dan Jantungnya Hati, Air Rohnya Hati, Darahnya Maras Rupanya Jantung, Ada Pada Lengkungan (Lobang-Lobang) Tegak Di Tengah-Tengah Jantung Usholi Itu Hidup, Wujud Hidup Itu Sujud, Langgeng Pada Sukma Sejagat, Sungguh Eling Hidup Ta Kena Pati Allahu Akbar Waliyat Jati Sukmanya Kulit, Sejatinya Sukma, Kuliyat Jati, Daniyat Jati, Sukmanya Daging Likasan Jati, Sukmanya Sumsum, Putih Dari Si Bapak, Merah Dari Si Ibu, Adanya Allah Kudratullah, Rosulallah, Bismillahirrohmannirohiim Hidup Dzatullah Allahu Akbar, Aruku (Sujud) Pada Sukma Sejagat Langgeng Hidup Dzatullah, Sujud Ashadu Hidupku Dan Sukma Sealam Hidup Tak Kena Pati, Aku Yang Langgeng Diri Pakaiannya Sholat Hajad Seperti Aji (Ilmu)

KETERANGAN HATI YANG 4 PERKARA
1. Hati Sanubari = Wisesanya Rasa, Rupanya Hitam, Bagiannya Kaharullah, Tempatnya Di Alam Sulfil. Pujinya Allah-Allah Itu Sempurnannya Ucapan (Mulut)
2. Hati Makrowi = Purbanya Rasa, Rupanya Merah, Bagiannya Kamalullah, Tempetnya Dialam Sulbi, Pujinya Allah-Allah, Itu Sempurnanya Pamiarsa (Telinga)
3. Hati Sirri = Sempurnanya Rasa, Rupanya Kuning Bagiannya Jalaullah, Tempatnya Di Alam Tapek, Pujinya Hu-Hu Itu Sempurnanya Pangambue (Hidung)
4. Hati Fuad = Sirnanya Rasa, Rupanya Putih, Bagiannya Jamalullah, Tempatnya Di Alam Sabit, Pujinya Analhaqa 3x Itu Sempurnanya Paninggal (Mata)

KETERANGAN NAFSU YANG 4 PERKARA
1. Loamah (۱ ) Alif Adanya Di Mulut = Asmanya Hidup, Rupanya Didalam, Bagiannya Mulut, Tempatnya Di Kadut, Pujinya Yahu-Yahu, Sempurnanya Cipta Cipta.
2. Amarah ( ﻞ ) Lam Ta’bil, Adanya Di Kuping = Sifatnya Hidup, Rupanya Merah, Bagiannya Di Kuping, Tempatnya Jantung, Pujinya Ilahu-Ilahu, Sempurnanya Syir Dan Angan-Angan.
3. Supiah/Sawiyah ( ﻞ ) Lam Jalala, Adanya Di Mata = Af’alnya Hidup, Rupanya Putih, Bagiannya Dimata, Tempatnya Di Hamperu, Pujinya Imanahau-Imanahu, Sempurnanya Bergerak Dan Diam.
4. Mutmainah ( ﻫ) Ha Adalah,, Adanya Di Hidung = Dzatnya Hidup, Rupanya Kuning, Bagiannya Di Hidung, Tempatnya Pada Pepesuh, Pujinya Hu, Hu, Hu, Sempurnanya Budi Dan Rasa

KETERANGAN NAFAS YANG 4 PERKARA
1. Nafas = Talinya Hidup, Talinya Roh Rupanya Hitam, Bagiannya Af’alullah, Adanya Pada Ucapan (Mulut) Pujinya La Ilahailallah Sempurnanya Kulit Dan Daging
2. Tanafas = Pamiarsanya Roh Rupanya Kuning, Bagiannya Asmaullah Ada Pada Hidung, Pujinya Allahu-Allahu Itu Sempurnanya Tulang Dan Urat.
3. Anfas = Tempatnya Roh, Rupanya Merah, Bagiannya Sifatullah Ada Pada Punggung, Pujinya Allah-Allah, Itu Sempurnanya Darah Dan Sumsum.
4. Nufus = Penglihatan Roh, Rupanya Putih, Bagaiannya Dzatullah Ada Pada Awasnya Mata (Penglihatan), Pujinya Yahu-Yahu Itu Semprnanya Kekuatan Nafsu.
KETERANGAN AGAMA ISLAM

Agama Islam Terdiri Dari 4 Perkara
1. Syariat = Badan Bersumber Dari Otak, Imannya Hidayatullah, Yang Dilakukan Oleh Orang-Orang Syariat Wudhu Dengan Air, Batalnya Kalau Kentut, Sholatnya Maktuba, Lakunya Ruku, Sujud. Sempurnanya 4 Perkara
1. Senang Ujub Dan Takabur
2. Kalau Diundang Dapat Berkat
3. Menang Sendiri, Janjinya Tidak Tepat Dan Ujub Kalau Tamat Pengajiannya.
4. Takabur Kalau Melakukan Sholat 5 Waktu, Menetapkan Dirinya Tidak Ke Neraka Pasti Ke Syurga.
2. Tarekat = Hati Bersumber Dari Hidung, Imannya Sadrah Yg Dilakukan Wudhu Temen (Kesungguhan Hati), Batalnya Kalau Bohong, Sholatnya Daim, Lakunya Sopan Santun, Sempurnanya 14 Perkara :
1. Mengurangi Datangnya Penyakit
2. Mengurangi Tidur Dan Meleknya
3. Dengan Sungguh Berbaktinya
4. Dengan Tenang Pikirannya
5. Dimana Sja Ia Berbakti
6. Berbaktinya Ditempat Sepi Dan Tenang
7. Ditempat Yang Gelap Ia Berbakti
8. Permohonannya Menyerupai Rakyat Jelata
9. Malu Baktinya Ditengah-Tengah Pasar
10. Memalukan Baktinya Berdiri Ditengah-Tengah Pekarangan
11. Waktu Memberi Tidak Dengan Perhitungan
12. Harus Bersedih Dalam Pembicaraannya
13. Setelah Memberi Tidak Mengharapkan Imbalan
14. Sebelumnya Mempunyai Perasaan Sendiri.
3. Hakikat = Nyawa Bersumber Ditelinga, Imannya Maksum Yang Dilakukan, Wudhunya Eling (Ingat), Batalnya Kalau Lupa Sholatnya Tulkusta, Kelakuannya Tidak Sombong, Sempurnanya 5 Perkara.
1. Merdeka Dalam Badannya
2. Bersih Dalam Kalbunya
3. Suci Hatinya
4. Mulya Namanya
5. Sempurna Penglihatannya.
4. Ma’rifat = Rasa Bersumber Dimata, Imannya Yakin Wudhunya Tidak Melihat, Batalnya Kalau Melihat Sholatnya Dulkaji, Lakunya Tasdik, Sempurnanya 9 Perkara
1. Hilang Kalbunya
2. Kosong Sukmanya
3. Adanya Ditempat Yang Agung
4. Tak Ada Sembah Dan Pujinya
5. Iya-Iya, Tidak-Tidak
6. Bicaranya Dengan Kenyataan
7. Halus Tak Dapat Diambil
8. Bisa Masuk Walau Keureub
9. Digjaya Segala-Galanya, Bisa Masuk Tanpa Bolong.

KETERANGAN SAHADAT YANG 4

1. Syariat = Niatku Mengucapkan Dua Kaliamt Shadat Sekali Untuk Seumur Hidup
2. Tarekat = Niatku Mengucapkan Sahadt Panglawangan Pati Miyas Baginda Rosul Dari Otak, Otak Yang Menjadikan Adanya Pati, Menciptakan Mati Dan Hidup, Hidup Yang Tak Mati, Tetap Yang Tak Berubah.
3. Hakikat = Ashadu Ada Dia Ada Aku, Allahu Sifatku, Salallahu Tuhanku Menunjukan Jalan Terang, Hidup Tan Kena Pati, Eling Yang Tak Bisa Lupa, Mekrat Tan Kena Rusak, Dzat Ilang Pulang Ke Dzatullah, Lailahailallah Muammadarasulallah.
4. Ma’rifat = Asihku Asalku Dari Dzatullah, Du Itu Waktu Aku Diadu Celentang Dan Tengkurab Ibu Dan Bapak Ku, Bumi Dan Langit, Roh Masuk Kedalam Jisim (Badan) Baru Adanya Pangeran (Tuhan). Muhammad Yang Menanggung Dzat, Rosul Yang Menanggung Hidup, Ragaku Darmaku, Baik Buruknya Terserah Kepada Tuhan Dan Hatiku.

KUMPULAN SAHADAT

1. Sahadat Tauhid = Ashaduanla Ilahailallah, Wa Ashadu Lasyarikalahu
2. Sahadat Rosul = Wa Ashadu Ana Muhammadan Abduhu Warosuluhu
3. Sahadat Kita = Nawaitu Anukirro/Ukina Sahdataini Kalimat Taini Kumuro Murotaini Alaiya Watuni Muslimin.
4. Sahadat Anggota = Fikulli Walau Hakim Wanafsin Adadah Mawasi Ahu Bilahi Ta’ala Umani Ilallah.
5. Sahadat Fatimah = Cur Banyu Suci Mulia, Cai Suci Badan Sempurna, Hurip Langgeng Sejatining Langgeng, Putih Hurip Langgeng Badan Kalwan Nyawa Mur Suhud Dzat Lailahailallah Muammadarasulallah.
6. Sahadat Rasa = Ashadu Sahadat Rasa, Reumasa Kaula Tarima Suku Putu Nabi Adam, Umat Kanjeng Nabi Mumammad, Agama Nabi Ibrahim. Lailahailallah Muammadarasulallah.
7. Sahadat Syehk Abdul Qodir Jailani = Ya Hayu Ya Qoyum Ya Muzijat Karomah Safa’at Syehk Abdul Qodir Jaelani. Maha Abdi, Junjungan Abdi Kanjeng Gutsi Rosul Allah, Safa’atan Abdi Gusti, Ku Safa’at Gusti, Rosulihi 3x Ya Kutubihi 3x Ya Robani 3x Anbia 3x Kul Malikul Kudus Ala Kulli Syai’in Qodir. La Haula Wala Kuwata Ila Bilahil Aliyil Adzim.
8. Sahadat Sejati = Sahadat Sejati, Sejatining Shadat Los Digelarkeun Sa’alam Dunia, Adat Pada Mawa Sorangan-Soangan, Sahadat Sejati Boga Beurang Makam Sejati, Keluar Ti Makam Sejati, Aya Manusia Nu Sejati, Hirup Sejati Asupka Manusia Sejati, Sejatining Manusia Sejati Sejatining Manusia, Ana Boga Imah Di Babawa, Boga Batur Allah Pangeran.

9. Sahadat Japura = Ashadu Ana Siji Allah Ila Ana Loro Sadat Japura Tunggal Negara, Allah Kang Ngewarasakeun, Pangeran Kang Ngewarasakeun, Roh Kang Ngewarasana, Lailahailallah Muammadarasulallah.
10. Sahadat Sunda = Ratu Sunda Saking Gunung Kudratullah Nyi Baguse Sawung Galing Komala Satra, Panembahan Madurasa, Ratu Weruh Kang Ora Tanana Guru Ratu Sejagad Buana.
11. Sahadat Galuh = Ingsun Ratu Galuh Taji Malela, Sri Putih Den Jol Jani Ratu Nokat.
Syehk Lanang Sunan Jati Pangeran Kali Jaga
Syehk Lanang Sunan Jati Pangeran Karang Kendal
Syehk Lanang Sunan Jati Pangeran Purawana
Geura Paesan Japura Nyi Mas Pamuragan Aya Baya 3x.
12. Sahadat Cirebon = Ashadu Sahadat Santal Geriming Bumi Gelung Pasang Tunggal Anak-Anak Nabi Allah Sucining Di Sawarga, Panutup Pangancing Rasa Ka Rosul, Rasa Kabadan………. Sukma Langgeng Sukma Pancer, Sukma Pancer Gunung Jati Sukma Rohing Nyawa, Sukma Sejatining Hurip Sukma Nu Medal Rat Sajagad Kabeh, Rong Ing Gogodongan Nu Metu Jadina Beurang, Nu Nyata Jadina Peuting, Rat Langgeng Salawase.

PECAHAN SAHADAT
Sa’adatnya Yang Diminum Itu Minuman
Sah’ Adatnya Minum Harus Kemulutkan
Saha’ Datnya Yang Membikin…………..

1. Dari Rohman Qodrat Jadi Anggota
2. Dari Rohim Qodrat Jadi Kekuasaan
3. Dari Rohman Irodat Jadi Jantung
4. Dari Rohim Irodat Jadi Kemauan
5. Dari Rohman Ilmu Jadi Otak
6. Dari Rohim Ilmu Jadi Elingan
7. Dari Rohman Hayat Jadi Nafas
8. Dari Rohim Hayat Jadi Hidup
9. Wahdiyat = Tunggal
Sahnya Wujud = Ada
Nur = Tahu Nurcahya = Menyaksikan

PERABOT UNTUK MENGERJAKANNYA
1. Dzat Dan Adatmu Yang asal dari qudrat yang maha suci
2. kendakmu yang asal dari irodat yang maha suci
3. pengetahuanmu yang asal dari ilmu yang maha suci
4. hidupmu yang asal dari hayat yang maha suci
5. dengarmu yang asal dari sama yang maha suci
6. penglihatanmu yang asal dari basar yang maha suci
7. ucapanmu yang asal dari kalam yang maha suci

YANG HARUS DIJALANKAN
Menjalankan 20 Sifat yang baik
Menuruti 20 sifat yang maha suci
Menjauhi 20 sifat yang tidak wajib dalam ketuhanan
Api rasa panas yang sudah berwujud
Air rasa dingin yang sudah berwujud
Angin rasa sejuk yang sudah berwujud
Bumi rasa tetap yang sudah berwujud

Maka wujudnya rasa panas itu dzatnya api, merah itu sifatnya, namanya apa saja itu asmanya, yang mengetahui itu af’alnya.
Begitupun wujudnya rasa dingin itu dzatnya air, putih itu sifatnya, namanya apa saja itu asma, yang mengetahui itu af’alnya. Dst……
Rasa-rasa tadi yang diterangkan semua asal dari Rasulallah
Kalau Dzatnya Tuhan ialah wujudnya Rasulallah
Kalau Sifatnya Tuhan ialah Rohman Rohim
Kalau Asmanya Tuhan ialah apa saja menyebutnya
Kalau Af’alnya Tuhan ialah sempurna mengerjakannya
Jangan lupa kepada Tuhan (wujud) = ada
Harus malu kepada kekuasaannya (Qodrat)
Punya rasa kepada kehendaknya (Iradat)
Merasa setelah tahu (Ilmu)

CAHAYA YANG 4 (EMPAT)
Merah = Kuping-bayang = amarah
Bertuhan kepada rohaniah (gorah)
Kuning = Jantung = nafas
Bertuhan kepada nafas (mutmainah)
Putih = Hati = mata = sawiyah/sufiah
Bertuhan kepada syir dari ibu bapak didalam syir
Hitam = Empedu = mulut = loamah/lawwamah
Bertuhan kepada aku (ya Allah ya aku)

Yang adatnya panas, yang sifatnya merah, api = amarah
Yang adatnya sejuk, yang sifatnya kuning, angin = mutmainah
Yang adatnya dingin, yang sifatnya putih, air = sawiyah
Yang adatnya tete, yang sifatnya hitam, bumi = loamah

Amarah = Kehewanan Api asal dari matahari, acinya api jadi daging
Loamah = Keduniaan Air asar dari laut, acinya air jadi tulang
Sawiyah = Kerobanaan Tanah asal dari bumi, acinya tanah jadi seisi badan
Mutmainah = Ketuhanan Nafas asal dari angin, acinya angin jadi kulit

Hukum saranya sudah punya segolongan-segolngannya
Hukum adatnya sudah punya seadat-adatnya
Hukum akalnya sudah punya seakal-akalnya
Hukum Allahnya yang tetap pada pendiriannya yang maha suci
Syariatnya badan dari ibu, tarekatnya adat dari bapak, hakekatnya pengetahuan dari guru, ma’rifatnya kita dari tuhan.

Cirebon Girang, 12 Mei 1917
Warisan Dari Embah Buyut Sutawijaya
Diwariskan Kepada Bapak Kartasoendjaya Dan Disalin Oleh Anda

Ciri ciri Wali Allah


Dan berikut kelanjutan dari ciri-ciri dari seorang mursyid yang wali :

>Syarat lainya yang mutlak harus dimiliki seorang wali yang mursyid adalah mereka berpegang teguh pada Qu’ran dan Hadist tidak pernah meninggalkan syariah dan sunnah. Karena tak ada tariqah tanpa syariah, karena seumpama syariah adalah penerang untuk menjalani jalan tariqah agar tak tersesat dan menuju hakikat. Imam Malik, Imam Mazhab Maliki mengatakan Syariat tanpa tasawuf adalah zindik, dan tasawuf tanpa syariat adalah sesat.

>Dan salah satu ciri para wali biasanya mereka tersembunyi, meskipun begitu mereka sangat terkenal diantara para kekasih Allah.

>Selama bermursyid dengan seorang yang wali anda akan menganggap kematian adalah sebuah anugerah dan hadiah dari Allah, tapi jika anda semakin takut mati maka carilah mursyid yang lain.

>Seorang yang wali dapat mengetahui dan menyembuhkan penyakit fisik dan jiwa muridnya.

>Bila mendengarkan ceramah dari Mursyid tasawuf yang Wali Allah, maka ia akan mendapatkan ilmu sekaligus Hikmah. Hikmah didapatkan dari mendengarkan langsung dan bersama Wali Allah, Ketika kita mendengar seorang Kekasih Allah/Wali Allah bicara, maka ilmu rasa yang ditransfer langsung kedalam kalbu kita. Hikmah adalah RASA, pertemuan langsung dengan Para Wali Allah. Berjamaah dengan wali Allah, bagaikan ibadah 70 tahun, maka carilah para Wali Allah. Itulah sebabnya Umar ra ketika berencana membunuh Nabi saw dan ketika berhadapan langsung dengan Nabi saw, maka ia masuk islam. Inilah ilmu Rasa yang ditransfer melalui tatapan mata, melalui pertemuan langsung, ilmu para Nabi dan Kekasih Allah, yang merubah benci menjadi cinta. Ilmu Wali Allah bekerja dengan dua cara , dari luar dan dari dalam, dari luar berupa ucapan, dari dalam berupa ilham ilahiah yg dimasukkan kehati setiap muridnya. Dan ketika muridnya melakukannya ia merasakan hal itu dari inspirasinya sendiri sehingga ia ihklas melakukannya tanpa beban sedikitpun. Itulah cara kerja Wali Allah dalam membersihkan dan membenahi para muridnya.

>Bila Awliya Allah duduk berdampingan dengan orang lain, maka orang itu akan merasa “senang” karena pada saat duduk dengan Awliyaullah, mereka akan diberikan energi positif yang mereka peroleh dari ibadah-ibadah mereka di malam dan siang hari sedangkan energi negative berupa beban-beban orang tersebut akan dibawa Awliyaullah. Karena duduk bersama oranglain bagi Awliyaullah adalah ibadah, meskipun kadang kala mereka tidak mau duduk dengan orang lain karena mereka sepenuhnya ambruk. Seperti dikisahkan Mawlana Syaikh Nazim qs "Aku tidak akan menyebutkan siapa, tapi sebuah delegasi mufti dari sebuah Negara di Eropa, bukan di Eropa tapi ditempat lain mereka datang kepadaku dan duduk bersamaku selama 5 jam. Mereka penuh dengan energi negatif. Semua bicara kepadaku dan aku tidak mampu bergerak lagi “ sehingga beliau perlu istirahat untuk kembali memulihkannya.

>Ada Syaikh yang memberikan nasehat dan ada Syaikh atau Wali yang memberikan bimbingan. Syaikh yang memberikan nasehat, maka bila nasehat tersebut akan kalian terima atau kalian tolak, maka mereka tidak peduli lagi. Tetapi Syaikh atau Wali yang memberikan bimbingan, maka dia akan membimbing kalian suka atau kalian tidak suka, dia akan mengawasi kalian dan menjaga sampai kalian sanggup untuk melakukannya sendiri, dia menjaga kalian sadar atau pun kalian tidak menyadarinya.

>Sang Pembimbing Ruhani Sejati para Wali Allah. tak butuh uang anda, tak butuh pujian, mereka orang yg ikhlas bekerja sepanjang hari tak kenal lelah tanpa bayaran, cukup Allah dan Rasulullah saw bagi mereka. Ketika kalian akan menyebrang padang pasir yang tak dikenal, kalian perlukan penunjuk jalan, agar tak tersesat, agar tahu bahaya yg menanti disetiap langkah. Tentu saja penunjuk jalan itu telah berhasil melalui padang pasir itu berkali2. Mereka yang dikuasai ego, memerlukan bimbingan guru ruhani sejati yg telah mengalahkan egonya, dan mengetahui cara memotong tangan2 gurita ego dari korbannya. Setiap orang perlu mencari Wali Allah sebagai pembimbing, bukan hanya ulama biasa yang terkadang masih memiliki ego yang tinggi.

Ilmu Ulama biasa dibanding Wali Allah, ilmunya bagai setetes air dari samudera ilmu wali Allah, ilmu Wali bagai setets dari samudera ilmu para sahabat, sedang ilmu para Sahabat bagai setetes dari samudera ilmu para Nabi, dan ilmu para Nabi bagai setetes dari samudera ilmu Rasulullah dan ilmu Rasulullah bagai setetes dari samudera ilmu Allah SWT. Carilah seorang mursyid yang Wali Sejati yang hidup semasa dengan murid yang akan membimbing kalian. Karena begitu banyak jalan tariqah sufi ini telah ditunjukkan, tetapi ego selalu menolak. Ketika kita akan melangkah kepada yang Haqq, maka seratus setan dalam bentuk manusia, jin mencegah kalian untuk mendekati yang Haqq. Berjuanglah untuk mencari yang Haqq. Ada dua kubu dalam islam, Islam yang Penuh Cinta dan Islam yang penuh kebencian. Hanya jalan CINTA yang nanti akan Allah ridhoi. Hanya jalan cinta yang merupakan jalan Nabi saw. Mengapa kalian tak megikuti Nabi saw ketika dihujani batu di Thaif tetapi tetap mendoakan umatnya agar selamat, tanpa dendam, itulah jalan cinta.

Semoga Allah menyampaikan kita pada jalan Nya yang benar dan semoga kita memperoleh mursyid dari Wali Allah sejati amin. Alhamdulillah kami juga telah merampungkan “ Menghadirkan Wajah Mursyid Sebagai Adab yang Utama “ yang pada akhirnya akan membawa murid menemukan realitasnya yaitu mengenal Allah SWT, seperti sabda Rasulallah SAW :“ Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah maka jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah “. (HR. Abu Daud)

Selasa, 18 September 2012

filosofi gamelan

filosofi gamelan
Gamelan berasal dari kata gamel yang artinya melakukan, gamelan pertama di buat pada tahun 167, dan terbuat dari bambu dan gamelan itu orkestranya orang jawa. Gamelan itu banyak mengandung filosofi contohnya: Bunyinya: nang ning nung neng nong. Nang (menang), ning (wening, berfikir) nung (ndhunung, berdo’a ), neng (meneng, diam), nong (Tuhan). Namanya: G (gusti), A (alloh), M (maringi), E (emut-ingat), L (lakonono), A (ajaran), N (nabi).

TATA CARA MEMAINKAN GAMELAN :
1.Dalam memainkan gamelan kita harus mempelajari unsur-unsur yang menunjang, seperti aturan main, tata susila, rasa kebersamaan dan kepekaan emosional.
2.Dilakukan dengan sikap yang baik dan duduk bersila.
3.Masuk areal gamelan tidak boleh melangkai alat gamelan.

MACAM-MACAM INSTRUMENT GAMELAN:
1. Bonang barung dan bonang penerus:
Ricikan yang berbentuk pencon yang diletakkan diatas rancakan dengan susunan 2 deret yaitu bagian atas disebut brunjung dan bagian bawah disebut dhempok. Terdiri dari 2 rancak. 1 rancak untuk laras slendro yang berisi 10/ 12 pencon, dan laras pelok berisi 14 pencon.
2. Wilahan (terdiri dari):
• Saron 1 dan 2
• Demung
• Slentem
• Peking
Wilahan berbentuk pipih terletak diatas rancakan yang terbuat dari kayu, ada 2 rancak, 1 rancak untuk laras slendro, dan 1 rancak untuk laras pelog
3. Kempul
Kempul menandai aksen-aksen penting dalam kalimat lagu/ gending untuk menegaskan ketukan
4. Gong ( Gong gede dan gong suwukan )
Gong menandai permulaan dan akhiran gending dan memberikan rasa keseimbangan setelah berlalunya kalimat lagu.
5. Gambang
Gambang ada3 rancak dengan bilah yang di buat dari kayu, 1 reancak untuk slendro, 2 rancak untuk pelok, masing-masing rancak terdiri dari 21 bilah mulai dari nada 5 sampai dengan nada 5.
6. Gender ( Gender barung dan gender penerus )
Bentuk bilah menggunakan tabung atau bumbungan yang di buat dari bamboo.
Sebagai resonator. Gender barung berisi 14 bilah, gender penerus 14 bilah.
7. Kethok kenong
Dalam memberi batasan sturktur suatu gending, kenong adalah instrument kedua yang peling penting setelah gongdan menuntun alur l
8. Celempung
Celempung instrument kawat petik. Kawatnya terdiri dari 13 pasang ditegakkan antara paku atas dan bawah, ada 3 buah satu untuk laras slendro dan 2 untuk laras pelok
9. Kemanak
Bentuknya seperti buah pisang, untuk mengiringi tari buidaya dan srimpi
10. Khendang
Kendhang dimainkan dengan jari dan telapak tangan, Kendhang yang menentukan irama dan tempo, (menjaga keajekan tempo, menuntun peralihan cepat atau lambat, menghentikan irama gamelan). Macam kendhang. ( ada kendang gede, kendang wayangan, kendshang ciblon, dan ketipung).
11. Rebab
Rebab berbentuk biola. Nabuhnya dengan cara digesek
12. suling
(Terbuat dari Bambu yang di lubangi )
13. sitter
Sliter instrument kawat petik yang terdiri dari 13 pasang, (alat ini lebih kecil dari celempung)

CARA MEMBUNYIKAN GAMELAN:
1. Dikebuk
Contoh: Bedhuk, Kendang
2. Dipukul
Contoh : Gender, gambang, kemanak, kecer, saron, bonang, kenong, kempul, gong.
3. Digesek :
Contoh : Rebab
4. Dipetik
Contoh : Celempung dan sitter
5. Ditiup
Contoh : Suling.

PERAN RICIKAN / INSTRUMENT GAMELAN:
Masing-masing instrument mempunyai perbedaan bantuk, peran dan fungsi. Untuk menyatukan hal tersebut, ada pembagian tugas dari masing-masing instrument, yaitu :
• Pamurba wirama
Bertugas untuk menguasai irama dalam sajian, menentukan tempo dan volume serta menghentikan gendhing. Instrument kendhang.
• Pamurba lagu :
Bertugas penetu dan penuntun lagu, menunjukan nafas, jiwa, dan karakter gendhing yang disajikan. Instrument Rebab, gender, bonang.
• Pamangku wirama
Bertugas menjaga irama, mempertegas tempo yang telah adea. Instrument Kethuk,kenong,kempyang,kempul dan gong
• Pamangku lagu
Bertugas memjalankan lagu yang sudah ada, serta mempertegas melodi. Instrument Gender,Saron, demung dan peking.
• Pangrengga lagu
Bertugas mengisi lagu. Instrument Gender penerus, suling, celempung dan sitter.
FILOSOFI GAMELAN DALAM KAJIAN ISLAM
musik gamelan diciptakan memang untuk membuat keselarasan hidup manusia. Pirantinya dibuat dengan menggunakan filosofi yang sangat tinggi penuh makna dan pesan bagi manusia untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta , Allah SWT. Bahwa kita hidup di dunia ini harus selalu ingat akan sang Pencipta dalam setiap pikir, gerak dan langkah kita. Berikut beberapa makna filosofi dari alat gamelan itu.
Kedhang:  berasal dari kata kendhali dan padang. Yang artinya adalah keinginan harus dikendalikan dengan pikiran dan hati yang bersih. Setiap kita mempunyai keinginan lakukanlah dengan pikiran yang jernih, penuh kepositifan. Dimbangi dengan hati yang bersih, dengan tujuan bahwa keinginan ini akan membawa kebaikan bagi orang banyak.
  1. Gong : yang berarti agung / besar. Mengandung makna bahwa Allah itu maha besar. segala sesuatu bisa terjadi bila ada ijin dari Allah. Kejadian-kejadian itu adalah untuk mengingatkan kita akan Kebesaran Kuasa Allah
  2. Bonang :    dari kata babon dan menang. Yang mengandung arti bahwa kemangan sejati adalah melawan hawa nafsu pada diri kita. Kendalikanlah diri kita, jangan mudah terpancing dan gampang menuruti hawa nafsu. Karena sejatinya pemenang adalah orang yang mampu mengontrol hawa nafsu.
  3. Panembung       : yang berarti meminta. Bahwa bila kita menginginkan / meminta sesuatu hanya kepada Allah. Mintalah hanya kepadaNya. Jangan pernah meminta sesuatu selain kepada Allah. Jangan pernah menyekutukanNya
  4. Penerus : artinya adalah anak keturunan. Ini mengandung makna bahwa ajaran dan dakwah Islam wajib diteruskan oleh keturunan kita.
  5. Saron : artinya adalah seru atau keras. Segala usaha dalam dakwah dalam islam harus dilakukan dengan kerja keras dan pantang putus asa
  6. Gambang : artinya adalah gamblang atau jelas. Mengandung makna bahwa dakwah yang biberikan harus jelas, sehingga maksud dan pesannya tersampaikan dengan sangat jelas, gamblang dan bisa dimengerti. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi akan kesalahpahaman dalam peneriamaannya.
  7. Suling   : berasal dari kata nafsu dan eling. Artinya adalah kita harus selalu ingat ( eling ) kepada Allah untuk mengendalikan nafsu kita.

99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman


01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
45. Perbanyak silaturrahim;
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47. Bicaralah secukupnya;
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya;
67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
70. Jangan melukai hati orang lain;
71. Jangan membiasakan berkata dusta;
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
76. Jangan membuka aib orang lain;
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara;
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu;
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya;
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan;
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang
“Sebarkanlah walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW) “Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surah Al-Ahzab:71)